Senin, 20 Agustus 2012

Bintang Untuk Ibu

Ingatkah ibu? Waktu ku kecil, kau selalu berkata bahwa kelak aku akan menjadi salah satu bintang yang ku tunjuk dengan asal di langit sana. Kala itu di malam saat kita sedang melihat langit dan aku duduk dalam pangkuanmu. “Karena bintang itu bisa bersinar dan menyinari semua yang ada disekitarnya” tuturmu saat aku bertanya mengapa. “Artinya, bintang itu bisa membagi cahayanya saat benda-benda langit yang lain membutuhkan cahaya”. Aku mengangguk-angguk setuju, karena aku sangat takut dengan gelap. Pikiran naif kecilku senang bukan kepalang karena aku tidak perlu takut lagi saat aku berada dalam gelap, karena aku akan bersinar seperti bintang. “Kapan aku bisa jadi bintang, bu?” tanyaku tak sabar ingin bisa bersinar sendiri, dalam bayanganku aku akan seperti bola lampu yang tergantung di teras rumahku. Kau pun hanya tersenyum dan berkata, “nanti, suatu hari nanti, asal kamu harus jadi anak yang baik, jadi ayu nggak boleh nakal.” Ujarnya seraya merangkulku lebih erat. Aku pun tersenyum puas, karena aku akan jadi bintang suatu hari nanti. Tentu saja waktu itu aku belum mengerti apa maksudmu ibu. Sudah belasan tahun sejak hari itu, aku belum bisa menjadi seperti yang ibu inginkan. Yang kutahu, semakin aku dewasa hidup menjadi lebih tak mudah. Bukan aku yang bersinar memberi cahaya, tapi malah aku yang diberi cahaya. Ibu, mungkin bukan hari ini, mungkin suatu hari nanti, walau tak bisa menjadi bintang banyak orang aku pasti akan menjadi bintang untukmu seorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar