Ingatkah ibu? Waktu ku kecil, kau selalu berkata bahwa
kelak aku akan menjadi salah satu bintang yang ku tunjuk dengan asal di langit
sana. Kala itu di malam saat kita sedang melihat langit dan aku duduk dalam
pangkuanmu. “Karena bintang itu bisa bersinar dan menyinari semua yang ada
disekitarnya” tuturmu saat aku bertanya mengapa. “Artinya, bintang itu bisa
membagi cahayanya saat benda-benda langit yang lain membutuhkan cahaya”. Aku
mengangguk-angguk setuju, karena aku sangat takut dengan gelap. Pikiran naif
kecilku senang bukan kepalang karena aku tidak perlu takut lagi saat aku berada
dalam gelap, karena aku akan bersinar seperti bintang. “Kapan aku bisa jadi
bintang, bu?” tanyaku tak sabar ingin bisa bersinar sendiri, dalam bayanganku
aku akan seperti bola lampu yang tergantung di teras rumahku. Kau pun hanya
tersenyum dan berkata, “nanti, suatu hari nanti, asal kamu harus jadi anak yang
baik, jadi ayu nggak boleh nakal.” Ujarnya seraya merangkulku lebih erat. Aku
pun tersenyum puas, karena aku akan jadi bintang suatu hari nanti. Tentu saja
waktu itu aku belum mengerti apa maksudmu ibu. Sudah belasan tahun sejak hari
itu, aku belum bisa menjadi seperti yang ibu inginkan. Yang kutahu, semakin aku
dewasa hidup menjadi lebih tak mudah. Bukan aku yang bersinar memberi cahaya, tapi
malah aku yang diberi cahaya. Ibu, mungkin bukan hari ini, mungkin suatu hari
nanti, walau tak bisa menjadi bintang banyak orang aku pasti akan menjadi
bintang untukmu seorang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar