Minggu, 28 Oktober 2012

Anomali



Sungguh sama sekali aku bingung
Keanehan sikapmu melesat jauh menembus awan-awan panca indraku
Membumbung tinggi melampaui batas-batas rasionalku
Tak teridentifikasi layaknya nebula yang mengepul menjajari lubang hitam
Namun terkadang hadirmu bagai sinyal-sinyal satelit nun jauh di antah berantah
Tak terdeteksi...
Kadang ada, kadang tiada...
Di lain waktu, kita seperti kutub utara dan kutub selatan
Layaknya kutub-kutub yang saling mengikat, saling tarik menarik
Namun dalam waktu yang bersamaan, seakan kita memiliki kutub yang sama saling tolak menolak
Saling berbeda seperti air dan api
Kedekata kita tak terdefinisi, seperti benda-benda langit yang jauh di sana
Atau mungkinkah kita diciptakan untuk tak seharusnya saling bersinggungan?
Atau sama dimaklumi hanya karena kita anomali?

(Ayu, Pekanbaru, 10 Januari 2011)
»»  Read More...

Sabtu, 20 Oktober 2012

Bermimpi Dalam Mimpi



Berpasang-pasang mata menghujam ke arahku. Tatapan mereka seperti menuntut sesuatu yang sangat besar dariku. Kudapati  diriku tersudut menggigil ketakutan. Aku sendiri dan mereka ada puluhan jumlahnya. Apa yang mereka inginkan dariku? Dan bagaimana bisa aku ada di sini? Tiba-tiba mereka berteriak, mengacung-acungkan tangannya, persis seperti para demonstran yang minta keadilan dari sang penguasa negeri. Suara mereka begitu menggelegar tapi anehnya aku tak bisa menangkap satu kata pun dari apa yang mereka ucapkan. Tatapan nanar tanpa ampun itu terus mengikuti setiap gerak napasku. Aku sendiri dan mereka ada puluhan jumlahnya!
Tiba-tiba dan entah dari mana seseorang menarik tanganku. “Cepat lari!!!” desisnya. Ia mencengkram tanganku kuat sekali. Aku limbung terseok-seok mengikuti langkahnya yang cepat-cepat. “Kenapa aku harus berlari???” aku berteriak sekuat tenaga tapi suaraku hanya udara yang kosong. Aku tidak bisa bersuara. Kucoba sekali lagi, kukumpulkan semua tenaga yang masih tersisa. Disela-sela pelarianku aku pun berteriak, “Aku ada dimana?? Siapa kau???” tak ada suara yang keluar. Semuanya hanya tertanam di dalam benakku. Ia, yang tak pernah kulihat sebelumnya, terus mencengkram tanganku. Memaksaku untuk terus berlari. Aku tak habis pikir. Ini pasti hanya sebuah mimpi. Tapi mengapa duri mawar liar yang menyayat kaki dan tanganku terasa sangat perih??
Ada ribuan pertanyaan dalam benakku. Tapi tak satu pun bisa terjawab. Aku menoleh ke belakang. Orang yang puluhan jumlahnya tadi masih mengejar kami. Kenapa kami, lebih tepatnya aku, harus berkejar-kejaran seperti ini?? Aku pasti bermimpi. Tapi mengapa sengal napasku terasa begitu nyata? Dan cengkraman tangan dari sosok yang tak kukenal ini juga sangat nyata?? Sungguh aku tak habis pikir. Aku jadi teringat sebuah film berjudul “Inception” yang dibintangi oleh Leonardo De Caprio, kisahnya berkisar seputar mimpi. Mimpi di dalam mimpi. Di mana seseorang dapat memasuki mimpi orang lain dengan bantuan suatu zat kimiawi yang disuntikkan ke dalam sebuah alat lalu dihubungkan ke dalam otak kita. Dan aku pasti secara tidak sengaja telah masuk ke dalam mimpi laki-laki misterius ini. Ah, pikiranku pasti sudah mulai kacau karena suasana yang sangat menegangkan ini.

Kami masih terus berlari dan berlari di tengah-tengah lebatnya hutan, entah sampai kapan dan dimana aku harus mengikuti lelaki ini. Kami berlari di antara ranting-ranting pohon dan tumbuhan perdu yang lebat. Aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan kami karena kabut tebal menyelimuti hutan ini. Kabut ini seolah dikirim untuk mengintimidasi setiap gerak-gerik kami, menghembuskan hawa dingin yang semakin menambah kengerian di sudut-sudut pikiranku, mendominasi setiap celah di sekitar kami hingga jarak pandang kami hanya tinggal beberapa meter saja. Tiba-tiba saja lelaki tak dikenal ini berhenti, aku yang tak siap akan gerakan mendadak ini menubruk punggungnya, kurasakan tubuhku terhuyung. Mungkin aku sudah jatuh jika ia tak terus mencengkram tanganku sejak tadi. Kusadari keheningan tiba-tiba menggantung di udara. Perlahan kabut tebal itu pun sirna. Kudapati aku semakin  terperangah. Kulihat jurang yang dalam menganga di hadapan kami. Mengapa tiba-tiba ada jurang di sini??? Cukup satu langkah yang kubutuhkan untuk terjun bebas masuk ke dalamnya yang terjal dan pekat di depan kami. Dan dapat dipastikan kami sudah jatuh sedari tadi jika kami, tepatnya dia, tak berhenti berlari.
Aku merasakan degub jantungku kembali mamacu. Kulihat ia masih menatap jauh ke depan dengan matanya yang tajam dan awas. Apa yang sedang ia pikirkan? Samar-samar kudengar derap langkah-langkah kaki yang mengejar kami sesaat tadi kian mendekat. Aku kebingungan mencari celah untuk tetap berlari. Namun terlambat, kami telah terkepung. Aku ketakutan melihat mata-mata tajam muncul d iantara kabut-kabut tipis yang seakan-akan dapat mencabik-cabik apa yang ada di hadapan mereka. Aku tak tahu apa yang sebenarnya yang telah dan akan terjadi. Kurasakan cengkraman tangannya semakin kuat. Tiba-tiba ada satu hentakan yang begitu kuat dan kudapati tubuhku ringan dan melayang jatuh mengikuti gravitasi. Lalu....
Aku pun terbangun dari tidurku...
Fiuuhhh... Ternyata ini hanya mimpi :D
»»  Read More...

Christina Perri - A Thousand Years


Heart beats fast  
Colors and promises  
How to be brave  
How can I love when I'm afraid to fall 
But watching you stand alone  
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
 

I have died everyday waiting for you  
Darlin' don't be afraid I have loved you for a Thousand years  
I'll love you for a Thousand more 


Time stands still beauty in all she is  
I will be brave I will not let anything take away  
What's standing in front of me  
Every breath, Every hour has come to this
One step closer
 

I have died everyday 
Waiting for you  
Darlin' don't be afraid I have loved you for a Thousand years 
I'll love you for a Thousand more
 

And all along I believed I would find you 
Time has brought Your heart to me 
I have loved you for a Thousand years 
I'll love you for a Thousand more
One step closer  

One step closer...
 

 
»»  Read More...

Jumat, 19 Oktober 2012

Mereka Adalah D'Kiding-kiding




Sahabatku

Dari dulu sampai sekarang gue pengen banget nulis sebuah karya ilmiah yang akan diprediksi mendapat penghargaan Nobel, sebuah yayasan yang didirikan oleh Alfred Nobel salah satu idola gue, tapi cita-cita gue yang terlalu tinggi itu gak juga kesampaian. Alhasil gue cuma nulis cerita bodo-bodo yang isinya juga gak jauh dari kehidupan seputar gue (yang juga bodo-bodo). Bermula dari sebuah buku yang menginspirasi gue untuk nulis cerita-cerita ringan tentang hidup gue (alias cerita gak mutu) mulai dari keluarga sampai kehidupan pribadi gue (who cares???) juga dihiasi dengan kegilaan dan kekonyolan temen-temen gue (di sini gue mencoba untuk menggunakan “elo” dan “gue” supaya agak-agak terlihat lebih keren walau pun lidah gue babak belur jadi korban).
Sebenarnya, cerita yang gue buat adalah interpretasi dari apa yang gue alami and rasakan. Untuk kali ini, gue dedikasikan seluruh waktu dan pengorbanan gue hingga lupa makan dan minum, lupa akan jati diri gue sendiri, lupa ngasi makan anak terlantar dan yatim piatu, lupa menguras bak mandi, sampe lupa ngecengin cowok-cowok cakep (hehe..I’m just a girl, come on…), yaaa, pokoknya gue jadi lupa segala-galanya hanya untuk nulis sebuah cerita tentang sahabat-sahabat gue (ceileeee… plok…plok…). Kita sadari atau tidak, setiap orang yang pernah hadir di dalam hidup kita secara tidak langsung berperan penting dalam pembentukan karakter kita, salah satunya adalah lingkungan di mana kita bergaul. Jadi kalo karakter gue sekarang jadi bodo-bodo, oknum-oknum yang pantas dan harus bertanggung jawab adalah sahabat-sahabat gue (hehehe… >:D).
Sebenarnya (lagi) gue punya banyak teman (tapi gue jarang diakui), mulai dari yang kalem ampe yang belingsatan kayak uler kepanasan, mulai dari yang pinter ampe yang bodohnya gak ketulungan, mulai dari yang paling baek ampe preman pasar beringas yang suka malakin anak sekolahan, mulai dari yang kutu buku ampe kutu rambut, mulai dari yang kutu kupret ampe kutu-nggu dudamu (hehe…), ya, intinya gue punya banyak teman dengan gaya dan ciri khas yang bervariasi.
Tapi untuk menulis biografi semua temen-temen gue yang gak kehitung banyaknya gue bakal membutuhkan seluruh masa hidup yang gue punya, jadi gue akan menghabiskan seluruh masa remaja gue dan masa-masa pencarian jati diri gue hanya untuk menulis cerita bodo-bodo, no way!!! Terus kapan waktu gue untuk beribadah kepada Allah swt??? (Ehem..). Otomatis gue harus berpikir jernih dengan mempersempit ruang lingkup penelitian gue, alhasil gue akan menceritakan sahabat-sahabat tercinta gue yang bodo-bodonya gak beda jauh dari gue. Mereka adalah, I proudly present…

Ervina Handayani
Gue berusaha untuk seadil-adilnya membagi cinta gue buat mereka. Gue mulai menceritakan temen-temen gue berdasarkan abjad, biar adil dan tak ada yang tersakiti (segitunya buk??). Oke, kita mulai dari Ervina Handayani, nick name-nya Vina. Anaknya easy going banget, kemana-mana kita selalu goyangin lutut kita (ya iyalah, masa goyangin badan ntar dikira trio macan kesurupan buto iji lagi) alias kita suka kemana-mana jalan kaki, no vehicle at all. Secara, kita adalah tipe penerus bangsa yang sadar akan lingkungan (ehem…) dari pada kita buat polusi mending kita buat kolusi (hehehe…). Vina adalah tipe cewek yang rada tomboy, but she’s normal, trust me (-_-v). Hal itu terbukti dari hubungan yang telah ia jalani bersama seorang perjaka ting-ting berinisial A-D-E (hehe… ketauan deh :D). Kalo lagi ngeliat pasangan muda-mudi ini gue jadi berasa lagi nonton film Lord of the Rings, Vina jadi Frodo-nya dan Ade jadi Sam-nya yang kemana-mana selalu berdua (gak koheren banget analogi gue). Ya pokoke, dimana ada Vina disitu pasti ada Ade yang sedang memandangi Vina dengan tatapan penuh cinta. (Cie, cie,,, :D )



Helni Desri Yetti
Well, let’s see for my next best friend ever, kita biasa panggil temen kita yang rada kalem ini dengan hel (ati-ati, jangan sampe salah sebut jadi hell, like go to hell, just hel, ok, repeat after me, hel, (hel) very good…) ah ribet, kita panggil dia Helni, agar tidak terjadi kontroversi di mana-mana. Sahabat gue yang satu ini lebih ‘waras’ dari sahabat-sahabat gue yang lainnya, juga lebih baik ama gue dari pada sahabat lainnya yang sering menganiaya gue (hiks…). Biasanya kita selalu barengan kalo mau ngampus, kita selalu kompak, apalagi kalau urusan bolos-membolos. Helni jarang melakukan aksi-aksi gila di depan orang banyak, tidak seperti sahabat-sahabat gue lainnya yang sering bikin gue harus selalu nebelin muka akibat perbuatan mereka yang mencoreng nama baik gue. Helni lebih sering nunjukin senyum manisnya, sampai-sampai Ajo sang pengelola fotocopy kampus jadi kesemsem ama helni (hehe… fatimah dikit ah…)





Rotua Hutagalung
Di samping kegilaannya ketika lagi ngumpul bareng, Ua bisa mengendalikan ketidakwarasannya dengan sedikit akal sehat yang dimilikinya. Terlepas dari semua itu, ia adalah seorang anak yang religius banget, terbukti waktu gue jalan bareng Vina di pagi buta tiba-tiba kita nemuin seorang wanita muda dengan rambut berkucir dengan sebagian rambut digerai keluar yang kita gak nyangka bahwa dia adalah Ua, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sohib kental kita dan sedang menunggu angkot untuk pergi ke gereja. Apehhhh?? di pagi buta?? Langsung aja kita berdua nyamperin Ua dan bertanya:
“Eh, Ua?? Mau kemana pagi-pagi gini?” gue langsung langsung menodongkan pertanyaan pada Ua, tapi ekspresinya seolah-olah gue lagi nodongin pistol ke dia. Ua terlihat kaget.
Vina langsung nambahin, “ Idih Ua agak-agak beda nih style-nya, hayooo… Mau kemana???” Ua langsung pucat pasi sembari tersipu malu. Lalu bersembunyi di belakang pohon pisang sambil menari-nari (hehe… mungkin Ua kebelet pipis).
“ Ini, aku mau ke gereja” jawabnya singkat
“ Ah yang bener? Kok cantik banget, beda banget ama gaya biasa yang kita liat waktu di kampus.” Vina mulai menggoda Ua (bukan berarti Vina jatuh cinta pada pandangan pertama pada Ua lho).
Gue malah makin seru nambahin, “ Hayooo… Mau ngecengin cowok-cowok di sana ya, ati-ati lho Ua, lurusin tuh niat kalo mau beribadah.” Gue jadi berlagak kayak orang bener.
Ua jadi salah tingkah setelah kita godain habis-habisan, gue jamin deh mood dia pasti bakal hancur seharian.
“ Beneran, aku emang mau ke gereja, acaranya emang pagi-pagi kayak gini.” Ua mencoba untuk meyakinkan kita dengan segenap jiwa raganya.
Gue ama Vina tetep mesem-mesem gak percaya sembari nunjuk-nunjuk Ua sambil ngedip-ngedipin mata kita kayak ayam yang lagi sakit ayan.
Ua terdengar menghembuskan napas terakhirnya eh, kelegaanya setelah gue memutuskan untuk cepet cabut karena waktu gue ama Vina udah mepet banget. Akhirnya kita say gud bye cup cup muah muah dengan Ua, berpisah maksudnya.

Sonya Kiding Kiding
Sebenarnya agak-agak susah untuk mendeskripsikan sahabat gue yang satu ini, bukan karena dia memilliki kepribadian ganda atau seorang anak yang terlihat autis (kabar terbaru yang beredar menyatakan bahwa ini adalah fakta bukan rekayasa), sorry to say, tapi karena ukuran tubuhnya yang agak ‘mungil’ dibanding dengan manusia pada umumnya. Jadi di sini kita harus memiliki paling tidak sebuah mikroskop dengan perbesaran beratus kali lipat hanya untuk melihat ciri fisiknya (hehehe ^^v…). But who cares with one’s physic? Walaupun begitu, Sonya tetap percaya dengan diri sendiri biar terkadang sering memaksakan kehendak untuk selalu tampil eksis di muka umum. Tapi gue salut banget dengan dia, dia salah satu anak klub debate berbakat (hellooww, ada berapa banyak sih anak autis yang bisa jadi debator?? Salut donk!!! Mari beri tepuk tangan yang meriah buat Onya), oleh karena itu gue acungi jempol (kaki) gue hanya buat Sonya seorang.
Saking cintanya ama debat, dia selalu berdebat dimana pun ia berada, baik di dalam kelas, indekos, di Warung pojok tempat kita biasa mangkal buat having lunch (pernah suatu hari ayam penyet yang gue makan ampe loncat keluar dari piring saking kagetnya ngedenger si onyeng berorasi, kasian ayam penyet gue jadi rada-rada shock waktu insiden itu Sonya jadi harus membayar uang tebusan dengan keluarga si ayam), dan mulai dari berdebat dengan orang banyak ampe berdebat dengan dirinya sendiri tentang asal usul dan jati dirinya (tuh kan dia aja bingung). Terlepas dari seperti apa pun dia, cinta gue tak kan pernah luntur terhadapnya (suit…suit…).
Sonya juga telah dinobatkan dengan sungguh-sungguh sebagai chairman atau ketua kelas kita yang bakal meng-handle segala urusan kelas, berhubung Sonya adalah wanita tulen (walau banyak orang yang menyangsikan akan hal ini) kita menjuluki Onya dengan sebutan chairlady. Terkadang gue miris lihat Onya tereak-tereak sendiri mengumumkan hal-hal penting yang memang sudah kewajibannya sebagai ketua kelas, tapi na’asnya Sonya tidak mendapat sedikitpun perhatian dari temen-temen sekelas. Gue sampe menitikan air mata ketika melihat adegan tersebut. Alhasil gue yang cukup tanggap akan masalah (ayeee) langsung menggendong Onya dan menaikkan Onya ke atas meja. Kontan temen-temen yang lain pada melongo, bukan karena ingin mendengar pengumuman dari Onya, gue nggak tahu pasti apa, tapi dari tatapan mata mereka gue bisa menarik kesimpulan: “Apa yang akan dilakukan dua orang aneh itu?” Atau “Kurang kerjaan banget sih tu orang pake main gendong-gedongan segala, Mbah Surip aja nggak senorak itu.” Sonya ngos-ngosan karena amarah, gue gondok karena kekurangan iodium eh maksud gue karena dicuekin.


Susilawati
She’s my last partner ever, just call her Asusila ehm, maksud gue Susi, tipe-tipe seperti dia sering muncul di sinetron-sinetron idola para ibu. Seorang wanita yang berkarakter sungai Siak, tenang tapi menghanyutkan, yang suka ngomong dalem hati dengan mata belok yang hampir copot. Buat elo-elo yang belum tau banget tentang susi silakan ketik Reg (spasi) Susi kirim ke rumah orangtuanya (hoho.. garing banget). Sebagai orang yang baru kenal dengan Susie lo harus siap untuk nahan sekong hetong alias sakit hati lo ke dia, karena dia, sesuai dengan karakternya, selalu berkata dengan perkataan yang simple namun memiliki arti yang sangat dalam, tajem banget. Menusuk-nusuk seperti sembilu (halah..)
Hal ternekat plus tergila yang pernah gue lakukan dengan Susi adalah, waktu kita lagi wasting our leisure time at mall, kita, atas desakan Susi similikitiwelehweleh, memberanikan diri untuk makan di food court yang harganya gila-gilaan. Otomatis gue yang cuma punya uang seadanya ditambah ongkos naik angkot segera menyerahkan seluruh peruntungan gue pada Susi. Untungnya Susi, dengan tipu muslihatnya, bisa meyakini gue bahwa di food court itu ada discount untuk beberapa item.
Pas udah di dalem, kita, khususnya gue, cuma bisa melongo dongo. Gila!!! Harga minumnya aja bisa menghabiskan uang jajan gue satu bulan. Saat itu bulu kuduk gue jadi merinding disko, gue melirik perlahan ke arah Susi dengan tatapan “Tolong ambilin gue sekop biar gue bisa mengubur elo idup-idup sekarang juga!!!” Susi cuma bisa tersenyum manis takut-takut ngeliat ekspresi horror gue. Dia langsung berinisiatif memanggil waitress-nya untuk nanya ada diskon apa enggak. Bulu kuduk gue yang tadinya berasa di-rebonding sekarang berubah jadi keriting. Baru seumur-umur gue bener-bener merasakan rahmat dari yang kuasa kalau ternyata Tuhan masih sayang ama gue (gue langsung pengen sujud syukur). At last, gue akhirnya bisa having a good time di food court yang harga makanannya bisa menguras kantong enyak-babe beserta tetangga-tetangga gue. Dialah Susi, temen yang berperan penting dalam membawa gue ke jalan kesesatan.

Well, itulah sedikit gambaran tentang sohib-sohib gue, bagaimana pun mereka gue tetep sayang ama mereka (ceileee…). Benar atau tidaknya cerita itu tanyakan saja pada rumput yang bergoyang atau pada bintang yang berpijar (halah-halah…). Intinya, elo musti baca note ini dengan menggunakan mata batin elo, maka elo akan setuju dengan cerita gue.
»»  Read More...

Mungkin Bukan Untukmu



Ada seseorang datang di dalam kehidupanmu. Secara perlahan ia mulai memasuki hatimu. Mungkin ia tak sengaja telah memasukinya. Tempat yang paling kau jaga agar tak mudah untuk dimasuki hanya jika nantinya akan menyakitimu. Namun, kau sudah terlanjur menikmati rasa itu, karena ia telah membuatmu merasa berarti, membuatmu menjadi orang yang kau kira ia cintai. Kau simpan rasa ini dalam hati, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, dan tanpa kau sadari sudah beranjak dua tahun sejak kau mencintainya. Ia terus membuatmu merasa tersanjung, membuatmu seolah-olah sangat berarti dihidupnya. Kau pun terlena dengan rasa indah akan perhatiannya.
Cintamu semakin hari tumbuh menjadi semakin besar, dengan akar-akar yang semakin dalam tertancap di hatimu. Dan kau telah yakin akan perasaanmu padanya. Kau menanti dan selalu menanti kapankah saatnya ia menyatakan cintanya padamu? Ada kalanya hatimu lelah akan penantian yang terlalu panjang, hingga keyakinanmu akan cintanya secara perlahan goyah. Namun, angan-anganmu selalu memupuknya akan tetap subur dan bertahan. Kau meyakinkan hatimu sendiri bahwa saat itu tak lama lagi akan datang. Saat di mana ia memintamu menjadi wanita  satu-satunya dihatinya. Hatimu yang tadinya bimbang kembali mekar karena pikiran positifmu terhadapnya.
Setiap saat kau menanti kapankah ia menghubungimu lagi atau datang langsung padamu. Kau pun akan kembali tersanjung ketika ia katakan rindu padamu. Lalu malam itu kau masih terus tersenyum hingga kau jatuh tertidur dengan bahagia. Kau selalu mengingat apa yang ia katakan. Kau selalu menyimpan apa yang ia beri atau mungkin tak sengaja ia beri padamu, walau itu hanya selembar kertas buram dengan tulisannya yang tak bermakna, atau selembar tissue yang ia ulurkan untuk membersihkan tanganmu dari noda. Namun bagimu, segala hal tentangnya adalah hal-hal yang paling penting dan bermakna. Kau pun merindukannya setiap hari. Setiap kau ingin memejamkan matamu, kau bertanya-tanya apakah ia juga merasakan hal yang sama? Serta-merta kau pun tersenyum, entah kenapa hatimu begitu yakin bahwa ia juga merasakan hal yang sama, ia juga merindukanmu. Pasti. Itu jawaban dari hatimu.
Kau masih terus bahagaia, apalagi saat ia mengrimimu puisi-puisi yang menurutmu adalah puisi yang paling indah di dunia. Kau terlena dengan kata-katanya. Kau  pun semakin mengaguminya. Kau dan dia memang tak sering berkomunikasi, tetapi selama dua tahun ia selalu menghubungimu, mengirimu pesan, atau sekedar bertemu denganmu. Hatimu berkata padamu, “Itu sudah lebih dari cukup, asal di hatinya hanya ada aku.” Kau selalu mengingat setiap detik pertemuanmu dengannya. Dan itu menjadi penguat hatimu ketika kau lelah menunggunya yang tak sering datang padamu.
Sampai suatu hari, saat ia datang menemuimu, ia berkata dengan sangat bahagia bahwa ia telah menemukan orang yang ia sayangi. Dan langit pun seakan runtuh saat kau menyadari bahwa bukan dirimulah orangnya, orang yang dicintainya. Dunia seakan menumpahkan seluruh bebannya hanya dipundakmu. Kau merasakan lututmu bergetar. Namun kau tahu saat itu kau harus tersenyum untuknya bagaimana pun caranya. Itu saat-saat yang paling sulit alam hidupmu. Tapi kau harus berusaha untuk menguasai hatimu, kau berusaha untuk menunjukkan bahwa kau juga bahagia untuknya.
Saat malam tiba kau pun menangis sejadi-jadinya. Dalam pikiranmu ada banyak sekali pertanyaan yang tak mampu kau jawab; mengapa bukan aku orang yang ia cintai? Bukankah aku yang lebih dulu hadir dalam hidupnya? Mengapa ia memperlakukan aku seperti ia juga ada hati padaku? Namun kau tak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau hanya bisa terisak sepanjang malam. Hari esoknya, kau tak lagi seceria seperti biasanya. Hari-hari berikutnya banyak kau habiskan mengurung dirimu di dalam kamar. Kau berharap semua yang telah terjadi adalah mimpi atau jika bisa kau berharap tak pernah bertemu dengannya jika kau tahu bahwa rasanya sesakit ini.
Dari hari ke hari, kau berusaha untuk menyembuhkan luka hatimu seorang diri. Kau mencoba untuk berpisah dari angan-anganmu tentangnya. Perpisahan yang kau lakukan seorang diri. Dan itu adalah perpisahaan yang paling sunyi yang pernah ada, tak ada yang tahu isak tangismu, tak ada yang tahu seberapa dalam kau terluka, tak ada kata-kata darinya yang dapat menegarkanmu. Karena, hanya kau yang mencintai, hanya kau yang sepi merindu, hanya kau yang memikirkan, memulainya dan mengakhirinya sendiri. Karena ia tak pernah tahu dan tak mau tahu sejauh mana kau telah mencintainya.
Belum cukup semua sedih hatimu terobati, mendadak hatimu hampa, kosong, lebih sepi dari hari ke hari. Namun, pikiranmu tak pernah berhenti memikirkannya. Itu lebih menyakitkan dari apa yang kau bayangkan. Kau hanya bisa membagi kesedihanmu, ketidakrelaanmu, serta kelemahanmu pada tetes-tetes hujan yang bermuara entah di mana, pada malam-malam yang semakin dingin, dan pada suara detak jarum jam dindingmu yang terus acuh berputar.
Kau tahu bahwa hidup akan terus berjalan, tak peduli seberapa sakitnya kau terluka. Waktu tak akan berhenti hanya untuk menunggu lukamu terobati. Mau tak mau kau pun harus terus bergerak, meninggalkan masa lalumu tentangnya yang sebenarnya tak lebih dari imajinasimu belaka. Sementara, mungkin, orang yang kau cintai atau lebih tepatnya ‘pernah’ kau cintai telah bahagia saat ini, saat di mana kau jatuh terpuruk tertatih-tatih menyusun kembali puing-puing hatimu yang sudah hancur berantakan. Kau tidak bisa selamanya seperti ini, semakin kau berpikir semakin kau merasa waktumu telah banyak terbuang sia-sia hanya untuknya.
Setiap hari setelahnya, waktu yang sebelumnya kau punya untuk memikirkan berangsur-angsur berkurang. Semakin jauh waktu melangkah, semakin jauh pula cintamu untuknya tertinggal di belakang. Telah semakin usang berkumpul dengan sejarah-sejarah hidupmu yang lainnya. Kau bersyukur pada-Nya, karena Sang Pencipta memberimu cara yang berbeda untuk membuat hatimu menjadi lebih kuat, lebih tegar dan lebih memiliki makna.
Hatimu sebenarnya tak pernah kosong, ada banyak kasih sayang yang memenuhinya, jika saja kau tak terlalu sibuk memikirkannya. Kasih sayang yang tulus dari hatimu yang bisa kau bagi pada keluargamu yang tak pernah meninggalkanmu, pada sahabatmu-sahabatmu yang selalu mengisi hari-harimu dengan  keceriaan, pada orang-orang yang terlupakan yang luput dari perhatianmu, dan pada seseorang yang telah Ia pillih untuk menjadi teman hidupmu. Semoga orang itu adalah dia yang saat ini selalu ada untukmu; TSD
(Ayu, Pekanbaru, 13 Juni 2012, )
»»  Read More...