Dari dulu sampai
sekarang gue pengen banget nulis sebuah karya ilmiah yang akan diprediksi
mendapat penghargaan Nobel, sebuah yayasan yang didirikan oleh Alfred Nobel
salah satu idola gue, tapi cita-cita gue yang terlalu tinggi itu gak juga
kesampaian. Alhasil gue cuma nulis cerita bodo-bodo yang isinya juga gak jauh
dari kehidupan seputar gue (yang juga bodo-bodo). Bermula dari sebuah buku yang
menginspirasi gue untuk nulis cerita-cerita ringan tentang hidup gue (alias
cerita gak mutu) mulai dari keluarga sampai kehidupan pribadi gue (who
cares???) juga dihiasi dengan kegilaan dan kekonyolan temen-temen gue (di sini
gue mencoba untuk menggunakan “elo” dan “gue” supaya agak-agak terlihat lebih
keren walau pun lidah gue babak belur jadi korban).
Sebenarnya, cerita
yang gue buat adalah interpretasi dari apa yang gue alami and rasakan. Untuk
kali ini, gue dedikasikan seluruh waktu dan pengorbanan gue hingga lupa makan
dan minum, lupa akan jati diri gue sendiri, lupa ngasi makan anak terlantar dan
yatim piatu, lupa menguras bak mandi, sampe lupa ngecengin cowok-cowok cakep
(hehe..I’m just a girl, come on…), yaaa, pokoknya gue jadi lupa segala-galanya
hanya untuk nulis sebuah cerita tentang sahabat-sahabat gue (ceileeee…
plok…plok…). Kita sadari atau tidak, setiap orang yang pernah hadir di dalam
hidup kita secara tidak langsung berperan penting dalam pembentukan karakter
kita, salah satunya adalah lingkungan di mana kita bergaul. Jadi kalo karakter
gue sekarang jadi bodo-bodo, oknum-oknum yang pantas dan harus bertanggung
jawab adalah sahabat-sahabat gue (hehehe… >:D).
Sebenarnya (lagi)
gue punya banyak teman (tapi gue jarang diakui), mulai dari yang kalem ampe
yang belingsatan kayak uler kepanasan, mulai dari yang pinter ampe yang
bodohnya gak ketulungan, mulai dari yang paling baek ampe preman pasar beringas
yang suka malakin anak sekolahan, mulai dari yang kutu buku ampe kutu rambut,
mulai dari yang kutu kupret ampe kutu-nggu dudamu (hehe…), ya, intinya gue
punya banyak teman dengan gaya dan ciri khas yang bervariasi.
Tapi untuk menulis
biografi semua temen-temen gue yang gak kehitung banyaknya gue bakal
membutuhkan seluruh masa hidup yang gue punya, jadi gue akan menghabiskan
seluruh masa remaja gue dan masa-masa pencarian jati diri gue hanya untuk
menulis cerita bodo-bodo, no way!!! Terus kapan waktu gue untuk beribadah
kepada Allah swt??? (Ehem..). Otomatis gue harus berpikir jernih dengan
mempersempit ruang lingkup penelitian gue, alhasil gue akan menceritakan
sahabat-sahabat tercinta gue yang bodo-bodonya gak beda jauh dari gue. Mereka
adalah, I proudly present…
Ervina Handayani
Gue berusaha untuk
seadil-adilnya membagi cinta gue buat mereka. Gue mulai menceritakan
temen-temen gue berdasarkan abjad, biar adil dan tak ada yang tersakiti
(segitunya buk??). Oke, kita mulai dari Ervina Handayani, nick name-nya Vina.
Anaknya easy going banget, kemana-mana kita selalu goyangin lutut kita (ya
iyalah, masa goyangin badan ntar dikira trio macan kesurupan buto iji lagi)
alias kita suka kemana-mana jalan kaki, no vehicle at all. Secara, kita adalah
tipe penerus bangsa yang sadar akan lingkungan (ehem…) dari pada kita buat
polusi mending kita buat kolusi (hehehe…). Vina adalah tipe cewek yang rada
tomboy, but she’s normal, trust me (-_-v). Hal itu terbukti dari hubungan yang
telah ia jalani bersama seorang perjaka ting-ting berinisial A-D-E (hehe…
ketauan deh :D). Kalo lagi ngeliat pasangan muda-mudi ini gue jadi berasa lagi
nonton film Lord of the Rings, Vina jadi Frodo-nya dan Ade jadi Sam-nya yang
kemana-mana selalu berdua (gak koheren banget analogi gue). Ya pokoke, dimana
ada Vina disitu pasti ada Ade yang sedang memandangi Vina dengan tatapan penuh
cinta. (Cie, cie,,, :D )
Helni Desri Yetti
Well, let’s see for
my next best friend ever, kita biasa panggil temen kita yang rada kalem ini
dengan hel (ati-ati, jangan sampe salah sebut jadi hell, like go to hell, just
hel, ok, repeat after me, hel, (hel) very good…) ah ribet, kita panggil dia
Helni, agar tidak terjadi kontroversi di mana-mana. Sahabat gue yang satu ini
lebih ‘waras’ dari sahabat-sahabat gue yang lainnya, juga lebih baik ama gue
dari pada sahabat lainnya yang sering menganiaya gue (hiks…). Biasanya kita
selalu barengan kalo mau ngampus, kita selalu kompak, apalagi kalau urusan
bolos-membolos. Helni jarang melakukan aksi-aksi gila di depan orang banyak,
tidak seperti sahabat-sahabat gue lainnya yang sering bikin gue harus selalu
nebelin muka akibat perbuatan mereka yang mencoreng nama baik gue. Helni lebih
sering nunjukin senyum manisnya, sampai-sampai Ajo sang pengelola fotocopy
kampus jadi kesemsem ama helni (hehe… fatimah dikit ah…)
Rotua Hutagalung
Di samping
kegilaannya ketika lagi ngumpul bareng, Ua bisa mengendalikan ketidakwarasannya
dengan sedikit akal sehat yang dimilikinya. Terlepas dari semua itu, ia adalah
seorang anak yang religius banget, terbukti waktu gue jalan bareng Vina di pagi
buta tiba-tiba kita nemuin seorang wanita muda dengan rambut berkucir dengan
sebagian rambut digerai keluar yang kita gak nyangka bahwa dia adalah Ua, yang
tidak lain dan tidak bukan adalah sohib kental kita dan sedang menunggu angkot
untuk pergi ke gereja. Apehhhh?? di pagi buta?? Langsung aja kita berdua
nyamperin Ua dan bertanya:
“Eh, Ua?? Mau kemana pagi-pagi gini?” gue langsung langsung menodongkan pertanyaan pada Ua, tapi ekspresinya seolah-olah gue lagi nodongin pistol ke dia. Ua terlihat kaget.
“Eh, Ua?? Mau kemana pagi-pagi gini?” gue langsung langsung menodongkan pertanyaan pada Ua, tapi ekspresinya seolah-olah gue lagi nodongin pistol ke dia. Ua terlihat kaget.
Vina langsung
nambahin, “ Idih Ua agak-agak beda nih style-nya, hayooo… Mau kemana???” Ua
langsung pucat pasi sembari tersipu malu. Lalu bersembunyi di belakang pohon
pisang sambil menari-nari (hehe… mungkin Ua kebelet pipis).
“ Ini, aku mau ke
gereja” jawabnya singkat
“ Ah yang bener? Kok
cantik banget, beda banget ama gaya biasa yang kita liat waktu di kampus.” Vina
mulai menggoda Ua (bukan berarti Vina jatuh cinta pada pandangan pertama pada
Ua lho).
Gue malah makin seru
nambahin, “ Hayooo… Mau ngecengin cowok-cowok di sana ya, ati-ati lho Ua,
lurusin tuh niat kalo mau beribadah.” Gue jadi berlagak kayak orang bener.
Ua jadi salah tingkah setelah kita godain habis-habisan, gue jamin deh mood dia pasti bakal hancur seharian.
Ua jadi salah tingkah setelah kita godain habis-habisan, gue jamin deh mood dia pasti bakal hancur seharian.
“ Beneran, aku emang
mau ke gereja, acaranya emang pagi-pagi kayak gini.” Ua mencoba untuk
meyakinkan kita dengan segenap jiwa raganya.
Gue ama Vina tetep mesem-mesem gak percaya sembari nunjuk-nunjuk Ua sambil ngedip-ngedipin mata kita kayak ayam yang lagi sakit ayan.
Ua terdengar menghembuskan napas terakhirnya eh, kelegaanya setelah gue memutuskan untuk cepet cabut karena waktu gue ama Vina udah mepet banget. Akhirnya kita say gud bye cup cup muah muah dengan Ua, berpisah maksudnya.
Gue ama Vina tetep mesem-mesem gak percaya sembari nunjuk-nunjuk Ua sambil ngedip-ngedipin mata kita kayak ayam yang lagi sakit ayan.
Ua terdengar menghembuskan napas terakhirnya eh, kelegaanya setelah gue memutuskan untuk cepet cabut karena waktu gue ama Vina udah mepet banget. Akhirnya kita say gud bye cup cup muah muah dengan Ua, berpisah maksudnya.
Sonya Kiding Kiding
Sebenarnya agak-agak
susah untuk mendeskripsikan sahabat gue yang satu ini, bukan karena dia
memilliki kepribadian ganda atau seorang anak yang terlihat autis (kabar
terbaru yang beredar menyatakan bahwa ini adalah fakta bukan rekayasa), sorry
to say, tapi karena ukuran tubuhnya yang agak ‘mungil’ dibanding dengan manusia
pada umumnya. Jadi di sini kita harus memiliki paling tidak sebuah mikroskop
dengan perbesaran beratus kali lipat hanya untuk melihat ciri fisiknya (hehehe
^^v…). But who cares with one’s physic? Walaupun begitu, Sonya tetap percaya
dengan diri sendiri biar terkadang sering memaksakan kehendak untuk selalu
tampil eksis di muka umum. Tapi gue salut banget dengan dia, dia salah satu
anak klub debate berbakat (hellooww, ada berapa banyak sih anak autis yang bisa
jadi debator?? Salut donk!!! Mari beri tepuk tangan yang meriah buat Onya),
oleh karena itu gue acungi jempol (kaki) gue hanya buat Sonya seorang.
Saking cintanya ama
debat, dia selalu berdebat dimana pun ia berada, baik di dalam kelas, indekos,
di Warung pojok tempat kita biasa mangkal buat having lunch (pernah suatu hari
ayam penyet yang gue makan ampe loncat keluar dari piring saking kagetnya
ngedenger si onyeng berorasi, kasian ayam penyet gue jadi rada-rada shock waktu
insiden itu Sonya jadi harus membayar uang tebusan dengan keluarga si ayam),
dan mulai dari berdebat dengan orang banyak ampe berdebat dengan dirinya
sendiri tentang asal usul dan jati dirinya (tuh kan dia aja bingung). Terlepas
dari seperti apa pun dia, cinta gue tak kan pernah luntur terhadapnya
(suit…suit…).
Sonya juga telah
dinobatkan dengan sungguh-sungguh sebagai chairman atau ketua kelas kita yang
bakal meng-handle segala urusan kelas, berhubung Sonya adalah wanita tulen
(walau banyak orang yang menyangsikan akan hal ini) kita menjuluki Onya dengan
sebutan chairlady. Terkadang gue miris lihat Onya tereak-tereak sendiri
mengumumkan hal-hal penting yang memang sudah kewajibannya sebagai ketua kelas,
tapi na’asnya Sonya tidak mendapat sedikitpun perhatian dari temen-temen
sekelas. Gue sampe menitikan air mata ketika melihat adegan tersebut. Alhasil
gue yang cukup tanggap akan masalah (ayeee) langsung menggendong Onya dan
menaikkan Onya ke atas meja. Kontan temen-temen yang lain pada melongo, bukan
karena ingin mendengar pengumuman dari Onya, gue nggak tahu pasti apa, tapi
dari tatapan mata mereka gue bisa menarik kesimpulan: “Apa yang akan dilakukan
dua orang aneh itu?” Atau “Kurang kerjaan banget sih tu orang pake main
gendong-gedongan segala, Mbah Surip aja nggak senorak itu.” Sonya ngos-ngosan
karena amarah, gue gondok karena kekurangan iodium eh maksud gue karena
dicuekin.
SusilawatiShe’s my last partner ever, just call her Asusila ehm, maksud gue Susi, tipe-tipe seperti dia sering muncul di sinetron-sinetron idola para ibu. Seorang wanita yang berkarakter sungai Siak, tenang tapi menghanyutkan, yang suka ngomong dalem hati dengan mata belok yang hampir copot. Buat elo-elo yang belum tau banget tentang susi silakan ketik Reg (spasi) Susi kirim ke rumah orangtuanya (hoho.. garing banget). Sebagai orang yang baru kenal dengan Susie lo harus siap untuk nahan sekong hetong alias sakit hati lo ke dia, karena dia, sesuai dengan karakternya, selalu berkata dengan perkataan yang simple namun memiliki arti yang sangat dalam, tajem banget. Menusuk-nusuk seperti sembilu (halah..)
Hal ternekat plus
tergila yang pernah gue lakukan dengan Susi adalah, waktu kita lagi wasting our
leisure time at mall, kita, atas desakan Susi similikitiwelehweleh,
memberanikan diri untuk makan di food court yang harganya gila-gilaan. Otomatis
gue yang cuma punya uang seadanya ditambah ongkos naik angkot segera
menyerahkan seluruh peruntungan gue pada Susi. Untungnya Susi, dengan tipu
muslihatnya, bisa meyakini gue bahwa di food court itu ada discount untuk
beberapa item.
Pas udah di dalem, kita, khususnya gue, cuma bisa melongo dongo. Gila!!! Harga minumnya aja bisa menghabiskan uang jajan gue satu bulan. Saat itu bulu kuduk gue jadi merinding disko, gue melirik perlahan ke arah Susi dengan tatapan “Tolong ambilin gue sekop biar gue bisa mengubur elo idup-idup sekarang juga!!!” Susi cuma bisa tersenyum manis takut-takut ngeliat ekspresi horror gue. Dia langsung berinisiatif memanggil waitress-nya untuk nanya ada diskon apa enggak. Bulu kuduk gue yang tadinya berasa di-rebonding sekarang berubah jadi keriting. Baru seumur-umur gue bener-bener merasakan rahmat dari yang kuasa kalau ternyata Tuhan masih sayang ama gue (gue langsung pengen sujud syukur). At last, gue akhirnya bisa having a good time di food court yang harga makanannya bisa menguras kantong enyak-babe beserta tetangga-tetangga gue. Dialah Susi, temen yang berperan penting dalam membawa gue ke jalan kesesatan.
Pas udah di dalem, kita, khususnya gue, cuma bisa melongo dongo. Gila!!! Harga minumnya aja bisa menghabiskan uang jajan gue satu bulan. Saat itu bulu kuduk gue jadi merinding disko, gue melirik perlahan ke arah Susi dengan tatapan “Tolong ambilin gue sekop biar gue bisa mengubur elo idup-idup sekarang juga!!!” Susi cuma bisa tersenyum manis takut-takut ngeliat ekspresi horror gue. Dia langsung berinisiatif memanggil waitress-nya untuk nanya ada diskon apa enggak. Bulu kuduk gue yang tadinya berasa di-rebonding sekarang berubah jadi keriting. Baru seumur-umur gue bener-bener merasakan rahmat dari yang kuasa kalau ternyata Tuhan masih sayang ama gue (gue langsung pengen sujud syukur). At last, gue akhirnya bisa having a good time di food court yang harga makanannya bisa menguras kantong enyak-babe beserta tetangga-tetangga gue. Dialah Susi, temen yang berperan penting dalam membawa gue ke jalan kesesatan.
Well, itulah sedikit
gambaran tentang sohib-sohib gue, bagaimana pun mereka gue tetep sayang ama
mereka (ceileee…). Benar atau tidaknya cerita itu tanyakan saja pada rumput
yang bergoyang atau pada bintang yang berpijar (halah-halah…). Intinya, elo
musti baca note ini dengan menggunakan mata batin elo, maka elo akan setuju
dengan cerita gue.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar