Jumat, 19 Oktober 2012

Mungkin Bukan Untukmu



Ada seseorang datang di dalam kehidupanmu. Secara perlahan ia mulai memasuki hatimu. Mungkin ia tak sengaja telah memasukinya. Tempat yang paling kau jaga agar tak mudah untuk dimasuki hanya jika nantinya akan menyakitimu. Namun, kau sudah terlanjur menikmati rasa itu, karena ia telah membuatmu merasa berarti, membuatmu menjadi orang yang kau kira ia cintai. Kau simpan rasa ini dalam hati, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, dan tanpa kau sadari sudah beranjak dua tahun sejak kau mencintainya. Ia terus membuatmu merasa tersanjung, membuatmu seolah-olah sangat berarti dihidupnya. Kau pun terlena dengan rasa indah akan perhatiannya.
Cintamu semakin hari tumbuh menjadi semakin besar, dengan akar-akar yang semakin dalam tertancap di hatimu. Dan kau telah yakin akan perasaanmu padanya. Kau menanti dan selalu menanti kapankah saatnya ia menyatakan cintanya padamu? Ada kalanya hatimu lelah akan penantian yang terlalu panjang, hingga keyakinanmu akan cintanya secara perlahan goyah. Namun, angan-anganmu selalu memupuknya akan tetap subur dan bertahan. Kau meyakinkan hatimu sendiri bahwa saat itu tak lama lagi akan datang. Saat di mana ia memintamu menjadi wanita  satu-satunya dihatinya. Hatimu yang tadinya bimbang kembali mekar karena pikiran positifmu terhadapnya.
Setiap saat kau menanti kapankah ia menghubungimu lagi atau datang langsung padamu. Kau pun akan kembali tersanjung ketika ia katakan rindu padamu. Lalu malam itu kau masih terus tersenyum hingga kau jatuh tertidur dengan bahagia. Kau selalu mengingat apa yang ia katakan. Kau selalu menyimpan apa yang ia beri atau mungkin tak sengaja ia beri padamu, walau itu hanya selembar kertas buram dengan tulisannya yang tak bermakna, atau selembar tissue yang ia ulurkan untuk membersihkan tanganmu dari noda. Namun bagimu, segala hal tentangnya adalah hal-hal yang paling penting dan bermakna. Kau pun merindukannya setiap hari. Setiap kau ingin memejamkan matamu, kau bertanya-tanya apakah ia juga merasakan hal yang sama? Serta-merta kau pun tersenyum, entah kenapa hatimu begitu yakin bahwa ia juga merasakan hal yang sama, ia juga merindukanmu. Pasti. Itu jawaban dari hatimu.
Kau masih terus bahagaia, apalagi saat ia mengrimimu puisi-puisi yang menurutmu adalah puisi yang paling indah di dunia. Kau terlena dengan kata-katanya. Kau  pun semakin mengaguminya. Kau dan dia memang tak sering berkomunikasi, tetapi selama dua tahun ia selalu menghubungimu, mengirimu pesan, atau sekedar bertemu denganmu. Hatimu berkata padamu, “Itu sudah lebih dari cukup, asal di hatinya hanya ada aku.” Kau selalu mengingat setiap detik pertemuanmu dengannya. Dan itu menjadi penguat hatimu ketika kau lelah menunggunya yang tak sering datang padamu.
Sampai suatu hari, saat ia datang menemuimu, ia berkata dengan sangat bahagia bahwa ia telah menemukan orang yang ia sayangi. Dan langit pun seakan runtuh saat kau menyadari bahwa bukan dirimulah orangnya, orang yang dicintainya. Dunia seakan menumpahkan seluruh bebannya hanya dipundakmu. Kau merasakan lututmu bergetar. Namun kau tahu saat itu kau harus tersenyum untuknya bagaimana pun caranya. Itu saat-saat yang paling sulit alam hidupmu. Tapi kau harus berusaha untuk menguasai hatimu, kau berusaha untuk menunjukkan bahwa kau juga bahagia untuknya.
Saat malam tiba kau pun menangis sejadi-jadinya. Dalam pikiranmu ada banyak sekali pertanyaan yang tak mampu kau jawab; mengapa bukan aku orang yang ia cintai? Bukankah aku yang lebih dulu hadir dalam hidupnya? Mengapa ia memperlakukan aku seperti ia juga ada hati padaku? Namun kau tak tahu apa yang harus kau lakukan. Kau hanya bisa terisak sepanjang malam. Hari esoknya, kau tak lagi seceria seperti biasanya. Hari-hari berikutnya banyak kau habiskan mengurung dirimu di dalam kamar. Kau berharap semua yang telah terjadi adalah mimpi atau jika bisa kau berharap tak pernah bertemu dengannya jika kau tahu bahwa rasanya sesakit ini.
Dari hari ke hari, kau berusaha untuk menyembuhkan luka hatimu seorang diri. Kau mencoba untuk berpisah dari angan-anganmu tentangnya. Perpisahan yang kau lakukan seorang diri. Dan itu adalah perpisahaan yang paling sunyi yang pernah ada, tak ada yang tahu isak tangismu, tak ada yang tahu seberapa dalam kau terluka, tak ada kata-kata darinya yang dapat menegarkanmu. Karena, hanya kau yang mencintai, hanya kau yang sepi merindu, hanya kau yang memikirkan, memulainya dan mengakhirinya sendiri. Karena ia tak pernah tahu dan tak mau tahu sejauh mana kau telah mencintainya.
Belum cukup semua sedih hatimu terobati, mendadak hatimu hampa, kosong, lebih sepi dari hari ke hari. Namun, pikiranmu tak pernah berhenti memikirkannya. Itu lebih menyakitkan dari apa yang kau bayangkan. Kau hanya bisa membagi kesedihanmu, ketidakrelaanmu, serta kelemahanmu pada tetes-tetes hujan yang bermuara entah di mana, pada malam-malam yang semakin dingin, dan pada suara detak jarum jam dindingmu yang terus acuh berputar.
Kau tahu bahwa hidup akan terus berjalan, tak peduli seberapa sakitnya kau terluka. Waktu tak akan berhenti hanya untuk menunggu lukamu terobati. Mau tak mau kau pun harus terus bergerak, meninggalkan masa lalumu tentangnya yang sebenarnya tak lebih dari imajinasimu belaka. Sementara, mungkin, orang yang kau cintai atau lebih tepatnya ‘pernah’ kau cintai telah bahagia saat ini, saat di mana kau jatuh terpuruk tertatih-tatih menyusun kembali puing-puing hatimu yang sudah hancur berantakan. Kau tidak bisa selamanya seperti ini, semakin kau berpikir semakin kau merasa waktumu telah banyak terbuang sia-sia hanya untuknya.
Setiap hari setelahnya, waktu yang sebelumnya kau punya untuk memikirkan berangsur-angsur berkurang. Semakin jauh waktu melangkah, semakin jauh pula cintamu untuknya tertinggal di belakang. Telah semakin usang berkumpul dengan sejarah-sejarah hidupmu yang lainnya. Kau bersyukur pada-Nya, karena Sang Pencipta memberimu cara yang berbeda untuk membuat hatimu menjadi lebih kuat, lebih tegar dan lebih memiliki makna.
Hatimu sebenarnya tak pernah kosong, ada banyak kasih sayang yang memenuhinya, jika saja kau tak terlalu sibuk memikirkannya. Kasih sayang yang tulus dari hatimu yang bisa kau bagi pada keluargamu yang tak pernah meninggalkanmu, pada sahabatmu-sahabatmu yang selalu mengisi hari-harimu dengan  keceriaan, pada orang-orang yang terlupakan yang luput dari perhatianmu, dan pada seseorang yang telah Ia pillih untuk menjadi teman hidupmu. Semoga orang itu adalah dia yang saat ini selalu ada untukmu; TSD
(Ayu, Pekanbaru, 13 Juni 2012, )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar